Minggu, 30 September 2012

tawuran sman 70 dan sman 6


VIVAnews - Tawuran pelajar SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta kembali terjadi. Satu pelajar dari SMAN 6, Alawi Yusianto Putra, tewas. Dua temannya, Dimas dan Faruq, terluka.

Tawuran pelajar dari kedua sekolah ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pelajar kedua sekolah beberapa kali terlibat tawuran.

Meski bentrokan pelajar ini sering terjadi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merasa tidak perlu menegur Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Kemendikbud juga tak menegur kepala sekolah kedua SMA itu.

"Kami rasa tidak perlu menegur, mereka bukan pelaku tawuran," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad saat berbincang denganVIVAnews, Selasa 25 September 2012.

Menurut Ibnu, saat ini yang paling penting bukan menegur dan saling menyalahkan. "Yang paling penting bagaimana kepala dinas mengkoordinasikan jangan sampai kejadian serupa terjadi lagi," katanya.

Ibnu sendiri mengakui bahwa Kemendikbud belum memiliki kajian khusus untuk mengatasi tawuran antara pelajar SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta ini. Meskipun tawuran pelajar kedua sekolah yang berdekatan ini terjadi beberapa kali. "Sejauh ini, saya belum mendengar adanya kajian itu," katanya. (eh)


Tawuran SMA 6 dan SMA 70 Didukung Oknum Senior dan Alumni
Oknum senior dan alumni turut terlibat dalam persoalan ini.
Selasa, 25 September 2012, 22:52Eko Priliawito, Siti Ruqoyah

VIVAnews - Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan sudah membicarakan masalah hukum terkait peristiwa penyerangan yang dilakukan murid SMAN 70 terhadap SMAN 6, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Polisi mengundang guru dari kedua sekolah, perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta. Solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah tawuran antar dua sekolah yang sudah sering terjadi itu sudah menemui titik terang.

Menurut Ketua Komite SMAN 70, Ricky Agusiadi, tidak semua siswa yang berada disekolahnya serta merta ikut dalam setiap tawuran. Sebagian siswa memang selalu terlibat dalam tawuran dan sebagian besar siswa hanya ikut-ikutan saja.

Tawuran itu, lanjut dia juga didorong dari dukungan para oknum senior dan alumni dua sekolah yang jaraknya tidak berjauhan itu.

"Memang masalah ini tidak semudah membalikkan tangan. Sekarang kita hanya bisa memberi nyaman dan aman sama siswa yang ada. Sekarang, keamanan juga sudah diberikan jaminan dari pihak berwajib," ujar Ricky usai pertemuan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Guna meredam aksi tawuran, sekolah sudah sering memanggil alumni dan meminta solusi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah ini. Ternyata, ada oknum yang mengatasnamakan alumni yang menjadi pemicu. Mereka sudah dinyatakan dikeluarkan dari SMAN 70 dan SMAN 6. (adi)
JAKARTA, KOMPAS.com — Apa yang dikhawatirkan masyarakat dari tawuran pelajar yang hampir setiap hari terjadi di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, akhirnya benar-benar terjadi. Satu pelajar SMA Negeri 6 Jakarta tewas dalam tawuran yang terjadi di sekitar KFC Bulungan, siang ini.
"Yang meninggal teman saya di kelas X SMA 6," kata El Farouq Hassan (15), yang ditemui di RS Muhammadiyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012).
Menurut Farouq, seusai jam sekolah, bersama beberapa teman, mereka nongkrong sebentar di 7Eleven Bulungan. Saat itulah tiba-tiba puluhan pelajar SMA 70 Jakarta datang menyerang dengan senjata tajam. Salah seorang dari kelompok penyerang sempat mengayunkan senjata tajam yang menyabet dada Alawi.
"Waktu lihat dia terluka, kami langsung bawa dia ke sini. Tapi enggak ketolong," kata Farouq.
Sekitar pukul 14.10 WIB, jenazah telah dibawa ke RSUP Fatmawati untuk menjalani visum.

Tawuran SMAN 70 dan SMAN 6, Satu Pelajar Tewas
Tawuran Pelajar | oleh Wahyu SK
Posted: 24/09/2012 14:38
Liputan6.com, Jakarta: Pelajar SMAN 70 dan SMAN 6 Jakarta kembali terlibat tawuran di ruas Jalan Bulungan Raya, Jakarta Selatan, Senin (24/9). Satu korban meninggal dunia akibat luka tusuk.

"Memang tadi ada tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 sehabis zuhur. Sudah biasa kedua SMA itu tawuran," kata Sony, tukang parkir di kawasan itu.

Salah seorang guru SMAN 70, Cecep mengatakan, satu korban yang meninggal dunia bernama Alawi (15), siswa kelas X SMAN 6. Dia mengalami luka tusuk benda tajam di bagian dada.

Menurutnya, selain Alawi, ada dua siswa lagi menjadi korban aksi tawuran itu yang mengalami luka berat. "Ada dua orang luka berat. Namun, belum diketahui identitasnya," terang Cecep saat dijumpai di lokasi. Kini, ketiga korban kini dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (ALI/FRD)

SMA 6 dan 70 Tawuran Lagi, Satu Pelajar Tewas
Tribunnews.com - Senin, 24 September 2012 14:41 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Siswa SMA 6 dan 70 kembali terlibat tawuran di bundaran Blok M, Jaksel, Senin (24/9/2012) sepulang jam belajar.
Tawuran para pelajar kali ini mengakibatkan seorang pelajar SMA 6 tewas terkena sabetan senjata tajam.
"Korban siswa Kelas 10 dari SMA 6 atas nama Alawi," ujar Kasubag Humas Polres Jaksel, AKP Aswin.
Kini, korban tengah divisum di RS Muhammadiyah Taman Puring Jaksel.
Belum diketahui penyebab tawuran tersebut. Namun, jajaran Polres Jaksel sudah mulai memeriksa sejumlah saksi yang mengetahui tawuran pelajar itu.
"Pasti kami turun tangan. Kami sedang lakukan penylelidikan dan penyidikan," jelasnya.

Siswa SMA 6 dan SMA 70 Tawuran, Satu Siswa Tewas Dibacok
Danu Damarjati - detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Jakarta Tawuran kembali pecah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan, antara siswa SMA 6 dan SMA 70 Jakarta. Tawuran ini menyebabkan seorang siswa SMA 6 kelas X tewas akibat kena bacok di bagian dada.

Pantauan detikcom, Senin (24/9/2012), jenazah Alawi masih berada di ruang IGD RS Muhammadiyah, Taman Puring, Jakarta Selatan. Jenazah ini sudah ditutupi selimut.

Puluhan siswa-siswi SMA itu berkerumun di depan rumah sakit tersebut. Terlihat juga beberapa orang petugas kepolisian di sekitar rumah sakit tersebut.

Tawuran di Bulungan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu puluhan siswa sekolah bentrok di sekitar Bulungan. Mereka saling lempar batu saling kejar di lokasi padat lalu lintas ini. Para pelajar ini juga membawa kayu dan bambu untuk saling serang.

Kapolres Jaksel Kombes Pol Wahyu Hadiningrat mengatakan, tawuran melibatkan puluhan pelajar kedua sekolah itu. Selain korban tewas, ada tiga korban luka-luka.

"Pelakunya masih kita kembangkan," ujar Wahyu di RS Muhammadiyah.

Sekadar diketahui, SMA 6 dan SMA 70 hanya berjarak 300 meter. Siswa kedua sekolah elite itu sering terlibat tawuran.

Tawuran SMA 6 vs SMA 70 Sudah Diskenariokan?
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Lahan yang luas dan berada di pusat bisnis kota Jakarta tentu menggiurkan bagi pebisnis manapun.
Disitulah  letak lokasi SMA 6 dan SMA 70 di Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Dua sekolah itu kerap tawuran dan kejadian terakhis seorang siswa meninggal.
Tawuran kedua sekolah itu memunculkan dugaan ada skenario persaingan memperebutkan lahan sekolah.
Anggota Komisi X DPR RI, Nasruddin, menegaskan ada indikasi kuat tawuran siswa kedua sekolah yang letaknya berdekatan itu direncanakan atau diskenariokan pihak tertentu.
"Ada tim yang mengadu sekolah agar diambil solusi sekolah dipindah  kemudian dijadikan lokasi mall atau perusahaan. Karena kawasan Mahakam dan Bulungan dinilai sebagai lokasi strategis untuk pebisnis," ujar Nasruddin dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Kepala Sekolah SMA 70 dan SMA 6 di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (26/9/2012).
Nasruddin yang mengaku anaknya sekolah di SMA 70 itu sangat menyayangkan terjadinya tawuran karena pengamanan di sekolah itu sangat lemah.
"Anak saya sekolah di SMA 70. Parkir mobil saja sudah ada petak-petak. Anak saya di situ pernah kena celurit, dirawat 14 hari. Habis salat Jumat diserang," kata dia.
Perhatian guru terhadap siswa, menurut Nasruddin, sangat minim terbukti waktu anaknya masuk rumah sakit hanya dijenguk dua gurunya.

M Nuh: Cukup, Tawuran SMAN 6 dan 70 Ini yang Terakhir
Tribunnews.com - Selasa, 25 September 2012 16:41 WIB
Laporan Wartawan Tribun Jakarta Mochamad Faizal Rizki
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menyatakan penyesalannya atas peristiwa tawuran antarsiswa yang menewaskan siswa SMAN 6 bernama Alawy (15), Senin (24/9/2012) kemarin.
Menyikapi hal ini, Muhammad Nuh telah bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo guna membahas masalah tersebut.
Muhammad Nuh menegaskan kasus ini harus menjadi yang terakhir, tidak boleh terulang lagi.
"Pada hari ini kami, Pak Gubernur (Fauzi Bowo), kepala dinas pendidikan, kepala sekolah kedua pihak dan komite sekolah, bertekad menjadikan kasus ini yang terakhir," tegas M Nuh, saat menggelar jumpa pers di ruang Audiovisual SMA Negeri 6, Jl Mahakam, Jakarta Selatan, Selasa (25/9/2012).
"Kita tidak ingin mendengar cerita kekerasan lagi antara SMA 70 dan SMA 6. Kita ingin menjadikan kedua sekolah ini menjadi sekolah unggulan dan harmonis, yang menunjukan prestasi yang luar biasa," kata Nuh saat menggelar jumpa pers di ruang Audiovisual SMA Negeri 6, Jl Mahakam, Jakarta Selatan, Selasa (25/9/2012).
Tanpa memberikan langkah kongkret seperti apa nanti penyelesaian konflik yang terus terjadi di kedua SMA yang berdekatan itu, Nuh hanya memberikan dukungan penuh kepada kedua sekolah untuk menjelaskan program-program untuk mewujudkan harmonisasi antar kedua sekolah yang hanya berjarak 300 meter tersebut.
Ia menegaskan, pemerintah, Pemprov DKI dan pimpinan kedua sekolah tidak ingin konflik antarsiswa kedua sekolah tersebut terus terjadi.
"Kami tidak ingin terjadi seperti antara Israel dan Palestina. Kita minta dua-duanya stop. Kita tutup mulai hari ini dan buka lembaran baru bagi kedua sekolah. Mulai hari ini kita beri dukungan penuh untuk penyelesaian kasus ini," lanjutnya.
Sebelumnya tawuran antara pelajar SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta pecah di kawasan Bulungan tidak jauh dari Blok M Plaza pada Senin (24/9/2012) kemarin siang.
Tawuran tersebut menyebabkan Alawy, siswa SMA 6 kelas X berusia 15 tahun, tewas akibat terkena sabetan celurit di bagian dada.
Alawy tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Kebayoran Baru.
Jenazah Alawy telah dimakamkan di TPU Poncol, kelurahan Pedurenan, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang, Selasa pagi, (25/9/2012).

Terkait Tawuran, Polisi akan Mediasi SMA 6 dan SMA 70 Jakarta
Pandu Triyuda - detikNews
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

Jakarta Pasca tewasnya siswa SMA 6 Jakarta yang diduga dibacok oleh siswa SMA 70 Jakarta di depan KFC Bulungan, pihak kepolisian akan membantu mediasi dua sekolah tersebut. Selain itu, polisi mengamankan lokasi untuk mencegah terjadinya aksi serupa.

"Kita melakukan langkah-langkah preventif dengan menurunkan petugas keamanan (pihak kepolisian) melakukan jaga di sekitar TKP maupun di lingkungan sekolah untuk sementara waktu," ujar Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Pol Wahyu Hadiningrat, kepada wartawan di Mapolres Jakarta Selatan, Jalan Wijaya II, Senin (24/9/2012).

Menurut Wahyu, pihak kepolisian selain melakukan kerja sama keamanan dengan pihak sekolah, polisi juga akan melakukan mediasi dengan kedua sekolah.

"Besok rencananya kita akan pertemukan kedua belah pihak. Terdiri dari guru sekolah SMA 70 dan guru sekolah SMA 6," ungkapnya.

Wahyu pun menghimbau agar kedua sekolah, bisa menghentikan aksi kekerasan yang berujung maut ini. "Kita sudah menghimbau baik SMA 6 dan SMA 70 untuk bisa mengendalikan dari pada siswanya," pungkasnya.

Seperti diketahui tawuran antara siswa SMA 6 dan SMA 70 Jakarta kembali pecah di kawasan Bulungan, Jakarta Selatan. Tawuran ini menyebabkan seorang siswa SMA 6 kelas X tewas akibat kena bacok di bagian dada.

Korban tewas bernama Alawy. Dia merupakan siswa kelas X berusia 15 tahun. Menurut saksi mata ketika tawuran pecah, Alawy sedang makan gulai di tikungan Bulungan (gultik). Dia lantas lari menyelamatkan diri bersama teman-temannya.

Malang, dia terjatuh di depan KFC Bulungan dan langsung mendapat sabetan celurit di dadanya. Remaja kelahiran 1997 itu pun meninggal dunia.

Jarak SMA 6 dan SMA 70 berjarak 300 meter saja, tak jauh dari Blok M Plaza. Siswa kedua SMA unggulan itu selama ini sering tawuran.

(ndu/trq) 

Sabtu, 15 September 2012

Biografi Mochtar Lubis



Biodata

Nama :
Mochtar Lubis

Tempat/Tgl. Lahir :
Padang, 7 Maret 1922

Agama : Islam

Isteri:
Halimah, 77 tahun, tutup usia pada 27 Agustus 2001

Karir :
* Sastrawan
* Wartawan KBN Antara
* Pemred Harian Indonesia Raya
* Pendiri majalah sastra Horison
* Direktur Yayasan Obor Indonesia

Pendidikan :
* HIS di Sungai Penuh

* Organisasi :
* Press Foundation of Asia

Penghargaan :
* Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan

Novel :
* Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam Rimba.

* Alamat : Jakarta

Mochtar Lubis,
Pahlawan di Pentas Jurnalistik

Pemred mantan Harian Indonesia Raya ini pernah dipenjara karena karya-karya jurnalistiknya. Wartawan senior ini lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda HIS di Sungai Penuh, dia melanjutkan pelajaran di sekolah ekonomi partikelir di Kayutanam. Pendidikan formalnya tidak sampai pada taraf AMS atau HBS.

Namun, putera Pandapotan Lubis, pegawai Pangreh Praja atau binnenlands bestuur (BB) pemerintah kolonial Hindia Belanda yang ketika pensiun pertengahan 1930-an menjabat sebagai Demang atau Kepala Daerah Kerinci, ini sempat menjadi guru sekolah di Pulau Nias, sebelum datang ke Jakarta. Ia memang seorang otodidak tulen.

Pada zaman Jepang, ia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio Sekutu di luar negeri. Berita yang didengar lalu dituliskan dalam laporan untuk disampaikan kepada Gunseikanbu, kantor pemerintah bala tentara Dai Nippon. Demi sekuriti dan agar berita radio itu tidak tersebar ke dalam masyarakat, tim monitor tinggal terpisah dalam kompleks perumahan di Jalan Timor, di belakang hotel milik Jepang, di Jalan Thamrin sekarang. Dalam tim itu terdapat Dr. Janssen mantan pegawai Algemene Secretarie di Bogor yang paham bahasa Jepang, J.H. Ritman mantan Pemred Harian Bataviaasche Nieuwsblad, Thambu mantan wartawan Ceylon yang melarikan diri dari Singapura setelah kota itu jatuh ke tangan Jepang dan Mochtar Lubis. Pada masa itulah, akhir 1944, Lubis menikah dengan gadis Sunda, Halimah, yang bekerja di Sekretariat Redaksi Harian Asia Raja. (Halimah meninggal pada usia 77 tahun, 27 Agustus 2001).

Setelah proklamasi kemerdekaan dan kantor berita Antara yang didirikan tahun 1937 oleh Adam Malik dkk muncul kembali. Mochtar Lubis bergabung dengan Antara. Karena paham bahasa Inggris secara aktif, ia menjadi penghubung dengan para koresponden asing yang mulai berdatangan ke Jawa untuk meliput kisah Revolusi Indonesia. Sosoknya yang tinggi 1.85 meter merupakan pemandangan familier di tengah war correspondents yang bule-bule. Menjelang penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949, ia bersama Hasjim Mahdan mendapat ide untuk memulai surat kabar baru. Maka lahirlah harian Indonesia Raya. Mochtar Lubis sebagai pemrednya. Ketika pertengahan 1950 pecah Perang Korea, Lubis pergi meliput pertempuran di Korea Selatan. Lalu ia pun terkenal sebagai koresponden perang. Pada parohan pertama dasawarsa 1950, ketika di zaman liberal, demokrasi parlementer, sangat dominan adanya personal journalism. Maka, Moctar Lubis adalah identik dengan Indonesia Raya, begitu pula sebaliknya. Surat kabar dikenal oleh yang memimpinnya: B.M. Diah di Merdeka, S Tasrif di Abadi, Rosihan Anwar di Pedoman.

Sebelum dikenai tahanan rumah pada 1957 dan tahanan penjara selama sembilan tahun sampai 1966, menurut penuturan H. Rosihan Anwar, Mochtar Lubis membikin masyarakat gempar dengan beberapa cerita/berita, yang disebut "affair". Pertama, affair pelecehan seksual yang dialami Nyonya Yanti Sulaiman, ahli purbakala, pegawai Bagian Kebudayaan Kementerian P & K. Bosnya di bagian itu bernama Sudarsono tidak saja berusaha merayu, melainkan juga mengeluarkan kata-kata seks serba "serem".
Tidak saja Indonesia Raya, melainkan juga Pedoman berhari-hari menyiarkan cerita asyik tentang sang Don Juan Sudarsono. Kedua, affair Hartini ketika terungkap hubungan Presiden Soekarno dengan seorang wanita di Salatiga yang mengakibatkan Nyonya Fatmawati berang dan kemudian meninggalkan istana.

Ketiga, affair Roeslan Abdulgani. Pada 13 Agustus 1956, CPM menangkap mantan Menteri Penerangan dalam kabinet Burhanuddin Harahap, Syamsudin Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe, karena urusan korupsi yang melibatkan Lie Hok Thay yang lebih dulu ditahan. Hok Thay mengaku memberikan uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan Abdulgani yang berasal dari ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya, Roeslan yang telah menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo hendak ditahan oleh CPM dua jam sebelum keberangkatannya tanggal 14 Agustus ke London untuk menghadiri konferensi internasional mengenai Terusan Suez. Presiden Mesir Nasser baru saja menasionalisasikan Suez. Berkat intervensi PM Ali dan Kepala Staf Nasution, penangkapan dibatalkan, dan Roeslan bisa berangkat ke luar negeri.

Dapat dimengerti apabila Presiden Soekarno yang tengah mewujudkan konsep politiknya --kelak menjelma sebagai demokrasi terpimpin Orde Lama-- marah-marah terhadap Lubis dan Indonesia Raya. Kolonel A.H. Nasution menjadi sekutu terpercaya Soekarno. Di musim gugur 1956, International Press Institute menyelenggarakan pertemuan para editor Indonesia dan editor Belanda di Zurich, Swiss, untuk mendiskusikan hubungan kedua negara. Sehari sebelum keberangkatan para editor, Mochtar dan Rosihan Anwar diinterogasi oleh CPM selama delapan jam di markasnya mengenai "sesuatu pemberitaan". Mereka diminta untuk stand by terus, namun tidak mereka indahkan.
Keesokan harinya, Mochtar dan Rosihan Anwar serta Diah, Tasrif, Wonohito, Adam Malik naik pesawat KLM dari Kemayoran. Lebih dari sebulan mereka berada di luar negeri menunggu situasi aman di Tanah Air. Kemudian mereka kembali dan di bandara diberitahu, mereka tidak akan ditangkap oleh Jaksa Agung. Rosihan Anwar memang tidak diapa-apakan, tetapi Mochtar tidak lama kemudian dikenai tahanan rumah. Ia mencoba memimpin Indonesia Raya dari rumah, tapi makin hari makin sulit situasinya. Pada 1961, ia dipindahkan ke penjara Madiun dan di sana ditahan bersama mantan PM Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo dan lain-lain. Keadaan di Tanah Air kacau. Peristiwa PRRI-Permesta menggoyahkan stabilitas. Kebebasan pers sirna. Indonesia Raya, Pedoman, Abadi dilarang terbit oleh Soekarno-Nasution.

Selain sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai sastrawan. Ia pandai pula melukis dan membuat patung dari keramik. Mulanya dia menulis cerpen dengan menampilkan tokoh karikatural si Djamal. Kemudian dia bergerak di bidang penulisan novel. Di antara novelnya dapat disebut: Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan.
Setelah tahun 1968 Indonesia Raya diizinkan terbit kembali, Lubis melancarkan "perang salibnya" terhadap korupsi di Pertamina. Bos perusahaan negara itu, Letnan Jenderal Ibnu Soetowo, disorot dengan tajam, namun sia-sia belaka. Ibnu boleh mundur sebagai Direktur Utama Pertamina, akan tetapi posisinya tetap kokoh dan harta yang dikumpulkannya tidak dijamah. Mochtar lubis memang menjadi pahlawan di pentas jurnalistik, itulah yang amat disukainya. Apakah soalnya menyangkut pencemaran lingkungan hidup atau pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), bisa dijamin ia ada di sana sebagai pembela perjuangan untuk yang benar dan adil. "Hero-complex"-nya menjadi motor pendorong dan motivasi penting dalam tindak-tanduknya.
Ketika terjadi peristiwa Malari Januari 1974 dan para mahasiswa beraksi mendemo PM Tanaka dari Jepang, kebakaran terjadi di Pasar Senen, disulut oleh anak buah Ali Moertopo, Presiden Soeharto jadi gelagapan. Ia instruksikan membredel sejumlah surat kabar, di antaranya Indonesia Raya, Pedoman, dan Abadi. Lubis sendiri ditahan selama dua bulan. Setelah bebas lagi bergerak, Mochtar banyak aktif di pelbagai organisasi jurnalistik luar negeri seperti Press Foundation of Asia. Di dalam negeri, dia mendirikan majalah sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang berprestasi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari luar negeri maupun domestik. Usaha penerbitan itu bisa tinggal landas lantaran yayasan ini memperoleh dana dari luar, seperti Ivan Kats dari Asia Foundation. Sesungguhnya, salah satu ciri khas Mochtar Lubis ialah PR (public relations) yang kuat, keluwesan bergaul, antusiasme terhadap sesuatu cause seperti ekologi, demokrasi, keadilan, dan hukum. Pintu yang diketoknya menjadi terbuka dan soal pendanaan tak jadi masalah.

Pada saat acara HUT ke-80 Mochtar Lubis, 9 Maret 2002 lalu, seorang pembicara dari LIPI, yaitu Dr. Mochtar Pabottinggi, menamakan Mochtar sebagai "person of character", insan nan berwatak. Di negeri kita sekarang, makin langka "person of character" itu. Bung Hatta di zaman Pendidikan Nasional Indonesia awal 1930-an suka menyerukan agar tampillah manusia-manusia yang punya karakter. Ibu Pertiwi tetap mengharapkan dan memerlukan banyak "person of character". Maka, tutur wartawan senior H. Rosihan Anwar, dalam kolomnya di Majalah Gatra Nomor 17 Tahun ke VIII, 11 Maret 2002, yang menjadi sumber artikel ini: "Dalam cahaya, kita menghormati wartawan Mochtar Lubis yang sudah sepuh. Sudah saatnya dia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra oleh Presiden RI."


Bibliografi
Tidak Ada Esok (novel, 1951)
Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950)
Teknik Mengarang (1951)
Teknik Menulis Skenario Film (1952)
Harta Karun (cerita anak, 1964)
Tanah Gersang (novel, 1966)
Senja di Jakarta (novel, 1970; diinggriskan Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963)
Judar Bersaudara (cerita anak, 1971)
Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972)
Harimau! Harimau! (novel, 1975)
Manusia Indonesia (1977)
Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980)
Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982)
Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983)

Karya jurnalistiknya:
Perlawatan ke Amerika Serikat (1951)
Perkenalan di Asia Tenggara (1951)
Catatan Korea (1951)
Indonesia di Mata Dunia (1955)

Mochtar Lubis juga menjadi editor:
Pelangi: 70 Tahun Sutan Takdir Alisyahbana (1979)
Bunga Rampai Korupsi (bersama James C. Scott, 1984)
Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno (1986)

Terjemahannya:
Tiga Cerita dari Negeri Dollar (kumpulan cerpen, John Steinbeck, Upton Sinclair, dan John Russel, 1950)
Orang Kaya (novel F. Scott Fitgerald, 1950)
Yakin (karya Irwin Shaw, 1950)
Kisah-kisah dari Eropa (kumpulan cerpen, 1952)
Cerita dari Tiongkok (terjemahan bersama Beb Vuyk dan S. Mundingsari, 1953)

Studi mengenai Mochtar Lubis:
M.S. Hutagalung, Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1963)
Henri Chambert-Loir, Mochtar Lubis, une vision de l'Indonésie Contemporaine (diseertasi, Paris, 1974)
David T. Hill, Mochtar Lubis: Author, Editor, and Political Actor (disertasi, Canberra, 1989)
David T. Hil, ‘Mochtar Lubis’, Inside Indonesia, Vol. 83, July-September 2005, p.23.
David T. Hill, Journalism and Politics in Indonesia: A Critical Biography of Mochtar Lubis (1922-2004) as Editor and Author, (Routledge, London & New York, 2010).

Jumat, 14 September 2012

the singing of heart

this for you


I haven't slept at all in days 
It's been so long since we've talked 
And I have been here many times 
I just don't know what I'm doing wrong 

What can I do to make you love me 
What can I do to make you care 
What can I say to make you feel this 
What can I do to get you there 

There's only so much I can take 
And I just got to let it go 
And who knows I might feel better 
If I don't try and I don't hope 

What can I do to make you love me 
What can I do to make you care 
What can I say to make you feel this 
What can I do to get you there 

No more waiting, no more aching 
No more fighting, no more trying 

Maybe there's nothing more to say 
And in a funny way I'm calm 
Because the power is not mine 
I'm just gonna let it fly 

What can I do to make you love me 
What can I do to make you care 
What can I say to make you feel this 
What can I do to get you there 

Love me 

yah, walaupun aku gk bisa lagi nyanyikan lagu itu dihadapanmu, dari sini saja sudah cukup :) . Dan lagu yang satu ini benar-benar sesuai dengan perasaanku ..


Look at me 
You may think you see 
Who I really am 
But you'll never know me 
Every day 
It's as if I play a part 
Now I see 
If I wear a mask 
I can fool the world 
But I cannot fool my heart 

Who is that girl I see 
Staring straight back at me? 
When will my reflection show 
Who I am inside? 

I am now 
In a world where I 
Have to hide my heart 
And what I believe in 
But somehow 
I will show the world 
What's inside my heart 
And be loved for who I am 

Who is that girl I see 
Staring straight back at me? 
Why is my reflection 
Someone I don't know? 
Must I pretend that I'm 
Someone else for all time? 
When will my reflection show 
Who I am inside? 

There's a heart that must be 
Free to fly 
That burns with a need to know 
The reason why 

Why must we all conceal 
What we think, how we feel? 
Must there be a secret me 
I'm forced to hide? 
I won't pretend that I'm 
Someone else for all time 
When will my reflection show 
Who I am inside? 
When will my reflection show 
Who I am inside? 

now I know, I just must waiting for true feeling from special someone ~
life is so beatifull ..